Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Kamis, 9 Juli 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Bagaimana mengkredit PPh pasal 22 pajak marketplace?

Muhamad Akbar AditamabyMuhamad Akbar Aditama
A A
161
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

PERTANYAAN

Selamat pagi, saya merupakan pedagang di marketplace, dokumen apa saja yang harus disiapkan oleh pedagang di marketplace untuk mengkreditkan PPh Pasal 22 yang dipungut oleh penyedia marketplace ke dalam perhitungan PPh terutang dan bagaimana mekanisme pengkreditannya?

  • Ibu Halima
Picture of Muhamad Akbar Aditama

Muhamad Akbar Aditama

Tax Policy Analyst Pratama-Kreston Tax Research Institute
PERNYATAAN PENYANGKALAN
Seluruh data dan informasi yang disediakan di dalam Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id bersifat umum dan disediakan untuk tujuan pendidikan saja. Dengan demikian, data dan informasi yang disediakan tidak dapat dianggap sebagai suatu nasihat dari konsultan pajak.
Baca Disclaimer
DISCLAIMER

Ringkasan Jawaban

Bagi pedagang yang telah dipungut PPh Pasal 22 dapat mengkreditkan pungutan tersebut perhitungan PPh terutang di akhir tahun pajak, terdapat beberapa dokumen penting yang harus disiapkan. Pertama, dokumen bukti potong yang diberikan oleh penyedia marketplace yang memuat informasi pemungutan PPh Pasal 22. Kedua, Surat Setoran Pajak (SSP) yang menunjukkan bahwa penyedia marketplace telah menyetor punngutan PPh Pasal 22.

Setelah dokumen lengkap, mekanisme pengkreditan dilakukan melalui pelaporan SPT Tahunan melalui formulir SPT  1770 atau 1771. Dalam formulir SPT, pedagang mengisi jumlah PPh Pasal 22 yang telah dipungut oleh penyedia marketplace sesuai bukti potong dan SSP. Apabila setelah mengisi kredit PPh pasal 22 terdapat kekurangan PPh tertutang, maka selisihnya disetor sendiri oleh pedagang. Sebaliknya, jika terjadi kelebihan pembayaran PPh terutang, pedagang berhak mengajukan permohonan pengembalian

Pembahasan Lengkap

Penerapan ketentuan mengenai PPh Pasal 22 oleh penyedia marketplace berawal dari diterbitkannya PMK No. 37 Tahun 2025 (PMK 37/2025). Dalam peraturan ini, setiap omset pedagang yang diperantarai oleh marketplace dikenai pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 0,5 %, kecuali apabila omset pedagang tersebut belum mencapai Rp 500 juta. Selanjutnya, marketplace bertanggung jawab untuk menyetor pajak tersebut ke kas negara dan menerbitkan bukti pemungutan berupa dokumen tagihan elektronik kepada pedagang.

Lebih jauh, landasan hukum bagi pedagang di marketplace untuk mengkreditkan PPh pasal 22 yang dipungut oleh penyedia markerplace diatur dalam, dikutip sebagai berikut

“Pajak Penghasilan Pasal 22 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperhitungkan sebagai pembayaran Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan bagi Pedagang Dalam Negeri.

Dalam hal pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas penghasilan Pedagang Dalam Negeri yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, Pajak Penghasilan Pasal 22 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari pelunasan Pajak Penghasilan yang bersifat final bagi Pedagang Dalam Negeri.”

– Pasal 8 ayat (3) dan (4) PMK 37/2025

Berdasarkan ketentuan diatas, bagi wajib pajak pedagang yag menghitung dan membayar PPh sesuai dengan ketentuan umum, PPh pasal 22 yang dipungut penyedia marketplace diperlakukan sebagai kredit pajak tahun berjalan. Sementara itu, bagi wajib pajak pedagang yang memenuhi kriteria UMKM dan menggunakan skema PPh final. Atas pungutan PPh pasal 22 oleh penyedia marketplace diperlakukan sebagai kredit pajak atas pelunasan PPh final.

Sejalan dengan ketentuan tersebut, pedagang di marketplace perlu menyiapkan beberapa dokumen penting agar dapat mengkreditkan pungutan PPh pasal 22. Pertama, pedagang akan menerima dokumen bukti potong PPh Pasal 22 yang berisikan  nomor, tanggal, identitas marketplace dan pedagang, rincian omzet, serta nilai PPh Pasal 22 yang dipungut. Kedua, Surat Setoran Pajak (SSP) yang membuktikan penyetoran pajak oleh marketplace. Setelah menerima dokumen tersebut, pedagang wajib mencatatnya dalam pembukuan sederhana atau buku kas sebagai bukti bahwa pajak telah dipungut dan disetor oleh penyedia marketplace.

Setelah seluruh dokumen dipersiapkan, mekanisme pengkreditan dilakukan melalui pelaporan SPT Tahunan. Dalam formulir SPT 1770 untuk wajib pajak orang pribadi atau 1771 untuk badan, pedagang mencantumkan jumlah PPh Pasal 22 yang dapat dikreditkan berdasarkan dokumen tagihan serta nomor SSP. Sistem perpajakan kemudian secara otomatis mengurangkan kredit pajak tersebut dari PPh terutang, sehingga memudahkan perhitungan dan meminimalkan risiko kesalahan pelaporan.

Bila terdapat selisih kurang antara PPh yang terutang dan PPh Pasal 22 yang dipungut pihak lain, selisih kurang tersebut harus disetor sendiri oleh pedagang. Sebaliknya, jika terdapat selisih kelebihan antara PPh Pasal 22 yang dipungut oleh penyedia marketplace dan PPh yang terutang, pedagang dapat mengajukan selisih kelebihan tersebut melalui permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang.

Dengan demikian, pemahaman terhadap landasan hukum, kelengkapan dokumen, serta alur pelaporan yang terstruktur akan membantu pedagang dalam menggunakan PPh Pasal 22 sebagai kredit PPh terutang di akhir tahun pajak sesuai ketentuan PMK 37/2025

author avatar
Muhamad Akbar Aditama
Tax Policy Analyst Pratama-Kreston Tax Research Institute
See Full Bio
Tags: pajak marketplacePedagang di MarketplacePMK 37/2025
161
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

DISCLAIMER

Seluruh data dan informasi yang disediakan di dalam Konsultasi pratamainstitute.com bersifat umum dan disediakan untuk tujuan pendidikan saja. Dengan demikian, data dan informasi yang disediakan tidak dapat dianggap sebagai suatu nasihat dari konsultan pajak.

Previous Post

Suami-Istri Wajib Gabung NPWP?

Next Post

Penanganan Penurunan Nilai Aset Tetap Sesuai PSAK

Related Posts

Piutang tak tertagih
Konsultasi

Perlakuan Akuntansi dan Pajak atas Piutang Tak Tertagih

5 bulan ago
Impairment Asset
Konsultasi

Perlakuan Pajak Penghasilan atas Impairment Aset

6 bulan ago
Kredit Pajak Masukan
Konsultasi

Bagaimana pengkreditan pajak masukan bagi perusahaan yang sudah tidak beroperasi?

6 bulan ago
Analisa Laporan Keuangan
Konsultasi

Bagaimana Menganalisis Laporan Keuangan untuk Mengantisipasi Kinerja di Masa Depan?

6 bulan ago
PPh Pasal 15
Konsultasi

Apakah Perusahaan Non-Pelayaran yang Memberikan Jasa Angkutan Laut Dikenai PPh Pasal 15?

6 bulan ago
Pajak Tambang
Konsultasi

Bagaimana Aspek Pajak atas Perusahaan Sektor Pertambangan

7 bulan ago

BACA JUGA

Permenkum 49/2025

Memahami Kewajiban Laporan Tahunan Sesuai Permenkum 49/2025

9 Juli 2026
Sustainable Procurement

Sustainable Procurement, Strategi Baru Memenangkan Tender B2B

9 Juli 2026

Strava Jadi Pemungut PPN PMSE, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

Mengurai Peran Materialitas dalam Sustainability Report

Permenkum 49/2025 dan Penguatan Basis Data Pajak

Mengurai Ancaman Shortfall di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Penghasilan Apa Saja yang Dipotong PPh Pasal 21 ?

Lipstick Effect di Tengah Ekonomi yang Lesu

Pajak JHT Ramai Dibicarakan, Begini Mekanismenya

Denda Terlambat Lapor SPT Masa PPN, Berapa Besarnya?

Perbedaan PPh 21 dan PPh 23 untuk Freelancer

Pajak Digital sebagai Instrumen Fiskal

Mengubah Risiko Menjadi Nilai Keberlanjutan

OECD vs UN Model: Siapa Berhak Memungut Pajak?

Please login to join discussion
Picture of Muhamad Akbar Aditama

Muhamad Akbar Aditama

Tax Policy Analyst Pratama-Kreston Tax Research Institute

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1564 shares
    Share 626 Tweet 391
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1134 shares
    Share 454 Tweet 284
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1017 shares
    Share 407 Tweet 254
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    914 shares
    Share 366 Tweet 229
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    894 shares
    Share 358 Tweet 224
Next Post
Penurunan Nilai Asset

Penanganan Penurunan Nilai Aset Tetap Sesuai PSAK

Standar Pengungkapan Keberlanjutan Resmi Terbit

Standar Pengungkapan Keberlanjutan Resmi Terbit

Dua Konsultan Pajak PT Pratama Indomitra Konsultan Raih Juara Pertama dan Ketiga Pada Lomba Penyusunan Tax Opinion/Tax Memorandum Tingkat Nasional

Dua Konsultan Pajak PT Pratama Indomitra Konsultan Raih Juara Pertama dan Ketiga Pada Lomba Penyusunan Tax Opinion/Tax Memorandum Tingkat Nasional

Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Jasa Annual Report
    • Jasa Sustainability Report
    • Jasa Assurance Sustainability Report
    • Jasa Kajian Kebijakan Fiskal
    • Jasa Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Jasa Penyusunan Naskah Akademik
    • Jasa Analisis Ekonomi Makro
    • Jasa Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.

  • Pernyataan Penyangkalan / Disclaimer

Seluruh data dan informasi yang disediakan di dalam Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id bersifat umum dan disediakan untuk tujuan pendidikan saja. Dengan demikian, data dan informasi yang disediakan tidak dapat dianggap sebagai suatu nasihat dari konsultan pajak.

Pada dasarnya Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id tidak menyediakan informasi yang bersifat rahasia dan hubungan klien – konsultan pajak tidak terjadi. Untuk suatu nasihat yang dapat diterapkan pada kasus yang Anda hadapi, Anda dapat menghubungi seorang konsultan pajak yang kompeten.

Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id tidak dapat digugat maupun dituntut atas segala pernyataan, kekeliruan, ketidaktepatan atau kekurangan dalam setiap konten yang disampaikan dalam Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id.

Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id berhak sepenuhnya mengubah judul dan/atau isi pertanyaan tanpa mengubah substansi dari hal-hal yang ditanyakan.

Artikel jawaban tertentu dari Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id mungkin sudah tidak sesuai/tidak relevan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.

Kami sarankan Anda untuk mengecek kembali dasar hukum yang digunakan di dalam artikel jawaban Konsultasi tri.pratamaindomitra.co.id untuk memastikan peraturan perundang-undangan yang digunakan masih berlaku.