Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Kamis, 9 Juli 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Sustainable Procurement, Strategi Baru Memenangkan Tender B2B

Auria GendisbyAuria Gendis
9 Juli 2026
in Analisis, ESG
Reading Time: 4 mins read
133 1
A A
0
Sustainable Procurement

Sumber : Freepik

152
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Selama bertahun-tahun, tim procurement di perusahaan B2B terbiasa dengan satu logika sederhana dalam memilih vendor, yaitu siapa yang menawarkan harga paling kompetitif akan memenangkan kontrak. Namun logika itu perlahan bergeser. Kini, semakin banyak perusahaan besar mensyaratkan bukti keberlanjutan sebagai bagian dari proses seleksi pemasok, mulai dari penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah B3 yang terdokumentasi, hingga praktik ketenagakerjaan yang adil. Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran struktural yang mengubah cara tim purchasing menyusun kriteria tender, sekaligus menuntut kesiapan dokumentasi yang jauh lebih matang dari sebelumnya.

Gejala yang Terlihat di Lapangan

Gejala pertama yang mudah dikenali adalah munculnya klausul ESG dalam dokumen kontrak. Sekitar 69 persen perjanjian pemasok baru yang ditandatangani pada 2026 diperkirakan menyertakan persyaratan pelaporan ESG yang mewajibkan vendor melaporkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola mereka sebagai bagian dari dorongan tekanan regulasi dan permintaan pemangku kepentingan terhadap transparansi rantai pasok (ProcurementTactics, 2026a).

Gejala kedua terlihat dari sisi pembeli. Riset yang dilakukan Gartner menunjukkan bahwa 67 persen pembeli B2B kini mengevaluasi pemasok berdasarkan kriteria keberlanjutan, meningkat signifikan dari 42 persen pada 2023 (Gartner, seperti dikutip dalam Searchlab, 2026). Artinya, dalam waktu kurang dari tiga tahun, keberlanjutan berubah dari nilai tambah menjadi standar minimum yang diharapkan ada di setiap proposal tender. Perusahaan yang belum menyesuaikan diri dengan pergeseran ini berisiko kehilangan peluang bisnis, bukan karena kualitas produknya menurun, melainkan karena dokumentasi keberlanjutannya belum memadai untuk memenuhi ekspektasi klien korporat.

Gejala ketiga muncul dari sisi verifikasi. Pembeli tidak lagi puas dengan klaim sepihak dari vendor. Sekitar 73 persen organisasi kini mengandalkan audit atau asesmen pihak ketiga yang independen untuk memverifikasi kepatuhan keberlanjutan pemasok, menandai pergeseran dari model pelaporan mandiri menuju validasi eksternal (ProcurementTactics, 2026a).

Akar Masalah di Balik Perubahan Ini

Akar masalah muncul dengan cepat karena perusahaan kini dihadapkan pada lanskap regulasi global yang semakin padat dan kompleks, sehingga tuntutan terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan pun terus meningkat. Saat ini terdapat estimasi 2.500 regulasi ESG di seluruh dunia, dan meskipun rantai pasok tidak selalu menjadi fokus utama, sebagian besar regulasi tersebut berimplikasi langsung pada praktik procurement (FocalPoint, 2026). Regulasi seperti CSRD di Eropa memperluas kewajiban pelaporan keberlanjutan hingga menjangkau perusahaan dengan skala menengah, sementara standar ISSB telah diadopsi di 37 yurisdiksi yang mewakili porsi signifikan dari PDB dan kapitalisasi pasar global, mengangkat standar kualitas bagi para investor (EcoVadis, 2026a).

Tekanan regulasi ini kemudian merambat ke bawah melalui rantai investasi dan rantai pasok. Ketika otoritas pasar modal mewajibkan manajer investasi membuktikan klaim keberlanjutan portofolionya, manajer tersebut kemudian menuntut data yang sama dari perusahaan yang mereka danai, dan perusahaan tersebut pada akhirnya menuntut data serupa dari pemasoknya (EcoVadis, 2026a). Beragam tuntutan pembuktian tersebut pada akhirnya berujung pada tim procurement yang harus memastikan seluruh data tersedia secara konsisten, terdokumentasi dengan baik, dan siap diaudit, sehingga klaim mengenai komitmen lingkungan dapat dibuktikan secara objektif.

Sayangnya, kesenjangan implementasi masih lebar. Hanya sekitar 10 persen organisasi yang benar benar mengintegrasikan data ESG ke dalam sistem procurement secara menyeluruh (ProcurementTactics, 2026a). Banyak tim procurement masih menyusun bukti keberlanjutan secara manual, tersebar di berbagai dokumen, dan sulit diakses cepat saat tenggat tender tiba. Di titik inilah masalah sesungguhnya terungkap, bukan karena perusahaan tidak berkomitmen pada keberlanjutan, melainkan karena bukti komitmen tersebut belum tersusun dalam format yang mudah diakses dan dipahami pihak lain.

Solusi yang Ditawarkan oleh Sustainability Report

Menghadapi realitas ini, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa laporan keberlanjutan sesungguhnya dapat menjadi lebih dari sekadar kewajiban administratif tahunan. Ketika disusun dengan cermat, dokumen ini membantu perusahaan menceritakan perjalanan komitmennya secara utuh, mulai dari kebijakan energi, pengelolaan limbah, hingga praktik ketenagakerjaan, dalam satu narasi yang koheren dan mudah dipahami oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk calon mitra bisnis. Narasi yang runtut semacam ini pada gilirannya membantu perusahaan merasa lebih siap ketika suatu saat diminta menunjukkan bukti nyata atas komitmennya.

Nilai dari kesiapan semacam ini juga tercermin dalam data pasar. Perusahaan dengan skor ESG yang kuat terbukti mengungguli pasar hingga 15 persen dalam periode lima tahun (MSCI ESG Research, seperti dikutip dalam Searchlab, 2026), sementara dari sisi permintaan pasar, konsumen bersedia membayar rata rata 9,7 persen lebih mahal untuk produk yang diproduksi atau diadakan secara berkelanjutan (PwC, seperti dikutip dalam FocalPoint, 2026). Tren serupa juga terlihat pada level korporasi, di mana hampir seluruh perusahaan yang disurvei kini mulai menanamkan data ESG ke dalam proses procurement mereka, meskipun integrasi digital penuh masih menjadi pekerjaan rumah bersama (EcoVadis & Accenture, 2026).

Sejalan dengan perkembangan tersebut, memiliki laporan keberlanjutan yang tersusun rapi dapat dipandang sebagai bagian dari kesiapan jangka panjang perusahaan menghadapi perubahan lanskap pengadaan yang semakin berorientasi pada bukti dan transparansi. Ketika permintaan dokumentasi ESG datang dari klien atau mitra, perusahaan yang telah memiliki fondasi pelaporan yang baik akan lebih tenang dalam merespons, karena cerita keberlanjutannya sudah tersusun jauh sebelum pertanyaan itu diajukan. Kesiapan semacam ini, meskipun tampak sederhana, sering kali menjadi pembeda halus antara perusahaan yang dipandang sekadar kompetitif secara harga dan perusahaan yang dipandang sebagai mitra jangka panjang yang dapat diandalkan.

author avatar
Auria Gendis
See Full Bio
Tags: ESG ReportLaporan KeberlanjutanProcurementSustainability ReportTender B2B
Share61Tweet38Send
Previous Post

Strava Jadi Pemungut PPN PMSE, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

Next Post

Memahami Kewajiban Laporan Tahunan Sesuai Permenkum 49/2025

Auria Gendis

Auria Gendis

Related Posts

Permenkum 49/2025
Analisis

Memahami Kewajiban Laporan Tahunan Sesuai Permenkum 49/2025

9 Juli 2026
Olahraga Lari
Analisis

Strava Jadi Pemungut PPN PMSE, Apa Dampaknya bagi Pengguna?

9 Juli 2026
Sustainability Report
Analisis

Mengurai Peran Materialitas dalam Sustainability Report

8 Juli 2026
Pengawasan Pajak
Analisis

Permenkum 49/2025 dan Penguatan Basis Data Pajak

8 Juli 2026
Shortfall
Analisis

Mengurai Ancaman Shortfall di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

8 Juli 2026
PPh Pasal 21
Analisis

Penghasilan Apa Saja yang Dipotong PPh Pasal 21 ?

8 Juli 2026
Next Post
Permenkum 49/2025

Memahami Kewajiban Laporan Tahunan Sesuai Permenkum 49/2025

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1564 shares
    Share 626 Tweet 391
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1134 shares
    Share 454 Tweet 284
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1017 shares
    Share 407 Tweet 254
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    914 shares
    Share 366 Tweet 229
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    894 shares
    Share 358 Tweet 224
Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Jasa Annual Report
    • Jasa Sustainability Report
    • Jasa Assurance Sustainability Report
    • Jasa Kajian Kebijakan Fiskal
    • Jasa Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Jasa Penyusunan Naskah Akademik
    • Jasa Analisis Ekonomi Makro
    • Jasa Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.