Linimasa Anda dipenuhi dengan kontradiksi ekonomi Indonesia. Di satu sisi, media memberitakan pelemahan rupiah, penurunan daya beli, dan ribuan kelas menengah yang tergelincir jadi kelompok rentan miskin. Di sisi lain, antrean masih mengular di gerai Pop Mart, matcha viral laris menjamur di mana-mana, dan koleksi blindbox terus memenuhi linimasa TikTok dan Instagram. Peristiwa ini disebut dengan lipstick effect.
Apa Itu Lipstick Effect?
Istilah ini pertama kali populer sekitar tahun 2001, ketika penjualan lipstik di Amerika Serikat justru naik di tengah resesi pasca-peristiwa 11 September. Ekonom Universitas Diponegoro, Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa lipstick effect bukan sekadar soal membeli kosmetik, melainkan perilaku konsumen yang tetap berbelanja barang terjangkau meski kondisi ekonomi sedang sulit. Ia menyebut tiga pendorong utama fenomena ini yaitu tekanan ekonomi, kebutuhan emosional, serta pengaruh sosial dan budaya digital.
Sederhananya, ketika orang menahan diri dari pembelian besar seperti rumah, mobil, atau elektronik, mereka tetap mencari kepuasan instan lewat barang-barang kecil seperti skincare, kopi premium, atau kini blindbox dan barang-barang lucu yang viral di media sosial.
Fenomena tersebut tidak lagi menjadi sekadar teori dalam literatur ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, gejalanya semakin mudah ditemukan dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia yang menunjukkan kecenderungan serupa.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menyebut lipstick effect sebagai “alarm kecil” yang menandakan tekanan daya beli, meski belum tentu jadi bukti krisis besar. Sinyal ini terlihat dari antrean panjang pembeli parfum lokal di mal-mal Jakarta serta kehebohan peluncuran barang kolaborasi di pusat perbelanjaan, di tengah data yang menunjukkan pelemahan konsumsi barang tahan lama.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Triwulan I 2026 turut memperkuat gambaran ini. Penjualan rumah tapak kecil tercatat turun 46% secara tahunan, sementara segmen rumah mewah tetap mencatatkan kinerja positif. Gen Z digambarkan sebagai kelompok yang sebenarnya masih berminat memiliki rumah, tetapi kian sulit menjangkaunya karena harga properti terus naik sementara pendapatan stagnan. Sebagai gantinya, uang justru mengalir ke sektor makanan dan minuman yang kini mendominasi hampir separuh tenant baru di pusat perbelanjaan Jakarta.
Pengamat Ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI Teuku Riefky mengatakan bahwa kenaikan upah riil nyaris mandek sejak 2017, sementara kelompok menengah-bawah mengalami penurunan saldo tabungan rata-rata, berbeda dengan kelompok super kaya yang tabungannya justru melonjak. Jutaan penduduk kelas menengah pun disebut turun kasta menjadi kelompok rentan miskin akibat stagnasi upah dan inflasi. Ironisnya, di tengah kondisi ini, industri kosmetik dan perawatan pribadi nasional justru diproyeksikan tetap tumbuh stabil di atas 5% pada 2026, sebuah kontras yang jadi ciri khas lipstick effect.
Blindbox dan Perintilan Lucu Sebagai Simbol Lipstick Effect Terkini
Simbol lipstick effect yang dulunya menggunakan lipstik, kini beralih ke blindbox seperti Labubu, Sonny Angel, atau Smiski yang mengambil alih simbolisasi tersebut. Produk kotak misteri ini populer dikarenakan sensasi treasure hunting yang muncul ketika ingin membuka kotak ditambah dengan kepuasan emosional ketika mendapatkan seri langka. Riset Nomura menyebutkan bahwa satu edisi blindbox pernah dijual kembali hingga 2000% di atas harga aslinya, sebelum turun lebih dari separuh setelah Pop Mart menaikkan produksi hingga 30 juta mainan per bulan.
Fenomena ini disebut sejumlah pengamat sebagai “treatonomics”. Fenomena ini menggabungkan antara nostalgia, budaya digital, dan lipstick effect klasik. Polanya konsisten dengan banyak orang rela berhemat untuk kebutuhan rumah tangga namun tidak ragu untuk mengeluarkan uang untuk barang koleksi, tiket konser, atau minuman kekinian. Hal ini disebabkan karena barang-barang tersebut memberi kepuasan instan yang terjangkau di tengah ketidakpastian besar yang tidak bisa mereka kendalikan.
Media sosial memperkuat siklus ini. Konten unboxing di TikTok dan Instagram menormalisasi pembelian impulsif, sementara diskon, gratis ongkir, dan fitur paylater membuat keputusan belanja terasa makin ringan walaupun sebenarnya menambah beban finansial jangka panjang.
Meski demikian, muncul pertanyaan yang lebih penting. Apakah fenomena lipstick effect benar benar menjadi pertanda bahwa kondisi ekonomi sedang memburuk atau justru mencerminkan perubahan cara masyarakat mengelola pengeluaran di tengah tekanan daya beli.
Menariknya, riset konsumen yang diulas The Conversation Indonesia menunjukkan Gen Z dan milenial tidak sepenuhnya kehilangan optimisme terhadap masa depan finansial mereka. Sekitar 6 dari 10 konsumen memang merasa daya beli tertekan dan menunda pembelian besar, namun banyak yang tetap disiplin menabung dan berinvestasi, sambil mengubah prioritas belanja. Perubahan perilaku ini dari kepemilikan barang mahal menjadi pengalaman dan kepuasan kecil yang lebih terjangkau.
Namun, Budi Frensidy selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tetap mengingatkan bahwa lipstick effect baru perlu diwaspadai serius jika disertai penurunan tabungan yang makin dalam, kenaikan utang konsumtif, lonjakan kredit macet paylater, dan pelemahan konsumsi barang tahan lama secara berkelanjutan. Ketika hal itu terjadi, tren blindbox, matcha viral, atau bahkan self-reward kecil mungkin bukan sekadar gaya hidup receh namun gambaran kecil dari tekanan ekonomi yang sedang dipikul oleh generasi muda Indonesia.










