Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan, pikiran orang sering langsung tertuju pada panel surya, turbin angin, atau mobil listrik. Padahal, di balik teknologi tersebut ada satu unsur penting yang sering terlupakan: manusia yang mengoperasikannya. Inilah yang disebut dengan tenaga kerja hijau, atau green jobs.
Pengertian Tenaga Kerja Hijau
Secara sederhana, tenaga kerja hijau adalah pekerjaan yang berkontribusi melindungi lingkungan sekaligus mendukung penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh International Labour Organization (ILO) sebagai bagian dari upaya just transition yaitu transisi yang adil menuju ekonomi rendah karbon dan berkelanjutan.
Menurut definisi ILO, tenaga kerja hijau adalah “decent jobs that contribute to preserving or restoring the environment, whether in traditional sectors such as manufacturing and agriculture, or in new, emerging green sectors such as renewable energy and energy efficiency.”
Artinya, pekerjaan hijau tidak terbatas pada sektor baru seperti energi terbarukan, melainkan juga bisa muncul di sektor-sektor konvensional yang mulai mengadopsi praktik ramah lingkungan.
Bayangkan seorang arsitek yang merancang gedung hemat energi dengan memanfaatkan pencahayaan alami. Atau teknisi mekanikal di sebuah perusahaan properti yang memastikan sistem pendingin udara beroperasi secara efisien, sehingga listrik tidak terbuang percuma. Di pabrik daur ulang, ada staf yang bekerja memilah limbah agar bisa kembali masuk ke rantai produksi. Bahkan di sektor logistik, manajer distribusi yang merancang jalur pengiriman rendah emisi juga bisa disebut sebagai bagian dari tenaga kerja hijau.
Dalam konteks perusahaan formal, contoh tenaga kerja hijau semakin beragam. Di sektor energi, ada instalatur panel surya untuk gedung perkantoran atau teknisi turbin angin di pembangkit listrik skala industri. Di sektor perkebunan, agronomis perusahaan merancang pola tanam berkelanjutan agar hasil panen tidak merusak tanah. Sementara itu, di perusahaan jasa profesional, konsultan lingkungan dan staf ESG bekerja memastikan bahwa strategi keberlanjutan benar-benar dijalankan, bukan sekadar jargon di laporan tahunan.
Baca juga: GCG Tangguh, ESG Tumbuh: Strategi Bisnis di Era Transisi Hijau
Mengapa Tenaga Kerja Hijau Penting?
Transisi menuju ekonomi hijau tidak bisa hanya mengandalkan teknologi atau modal. Tanpa sumber daya manusia yang terampil, investasi dalam energi terbarukan, pengelolaan limbah, atau efisiensi energi tidak akan berjalan optimal. Perusahaan membutuhkan pekerja yang mampu mengoperasikan teknologi baru, memahami regulasi lingkungan, dan pada saat yang sama menjaga keberlanjutan bisnis.
Dari sisi Good Corporate Governance (GCG), isu tenaga kerja hijau seharusnya mendapat perhatian serius. Dewan direksi maupun komite keberlanjutan perlu melihat pembangunan kapasitas SDM hijau sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Ini mencakup rekrutmen, pelatihan, hingga pengembangan karier. Dengan begitu, keberlanjutan tidak berhenti pada laporan, tetapi benar-benar menjadi praktik sehari-hari dalam perusahaan.
Peran Akuntansi dan Pelaporan
Dari perspektif akuntansi, tenaga kerja hijau bisa diukur dan dilaporkan sebagai bagian dari kinerja keberlanjutan perusahaan. Misalnya, berapa jumlah karyawan yang telah dilatih green skills, berapa jam pelatihan yang diberikan, atau berapa anggaran yang dialokasikan untuk sertifikasi tenaga kerja.
Indikator semacam ini bisa dimasukkan dalam laporan keberlanjutan melalui standar seperti GRI 401 (Employment) dan GRI 404 (Training and Education), yang dapat diperluas untuk mencakup aspek pengembangan keterampilan hijau (green skills development). Dengan begitu, perusahaan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berinvestasi pada teknologi, tetapi juga pada manusianya.
Singkatnya, tenaga kerja hijau adalah jembatan yang menghubungkan tujuan lingkungan dengan kesejahteraan ekonomi. Ia menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar wacana teknis atau urusan infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana kita menyiapkan manusia untuk dunia kerja yang lebih hijau.
Penulis: Umar Hanif Al Faruqy
Reviewer: Intan Pratiwi










