Meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan mendorong perusahaan untuk semakin terbuka dalam menyampaikan informasi lingkungan, sosial, dan tata kelola. Namun, peningkatan pengungkapan tersebut juga membawa tantangan baru. Informasi keberlanjutan tidak cukup hanya tersedia, tetapi perlu disusun secara relevan, dapat dibandingkan, dan memiliki tingkat keandalan yang memadai.
Salah satu risiko yang perlu menjadi perhatian adalah greenwashing, yaitu ketika informasi atau klaim keberlanjutan memberikan gambaran yang lebih positif dibandingkan kondisi yang sebenarnya. Risiko ini semakin penting karena informasi keberlanjutan kini dapat memengaruhi persepsi pemangku kepentingan, keputusan investor, hingga arah alokasi modal.
Dalam konteks inilah Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK), termasuk PSPK 1 dan PSPK 2, serta International Standard on Sustainability Assurance (ISSA) 5000 memiliki peran penting dalam membangun ekosistem informasi keberlanjutan yang lebih kredibel sekaligus mengurangi risiko greenwashing.
SPK dan ISSA 5000

Standar Pengungkapan Keberlanjutan memberikan kerangka bagi entitas dalam menyampaikan informasi keberlanjutan yang relevan bagi pengguna laporan. Di Indonesia, SPK mencakup PSPK 1 tentang Persyaratan Umum Pengungkapan Informasi Keuangan terkait Keberlanjutan dan PSPK 2 tentang Pengungkapan terkait Iklim.
Kehadiran standar tersebut mendorong perusahaan untuk tidak berhenti pada penyampaian narasi mengenai program atau aktivitas keberlanjutan. Informasi yang disampaikan perlu semakin terhubung dengan risiko dan peluang keberlanjutan yang dapat memengaruhi prospek perusahaan. Pendekatan ini penting karena klaim keberlanjutan yang tidak didukung data, metodologi, dan penjelasan yang memadai dapat meningkatkan risiko informasi yang menyesatkan.
Namun, standar pengungkapan saja belum sepenuhnya menjawab persoalan kredibilitas informasi. Setelah perusahaan menyusun dan mengungkapkan informasi keberlanjutan, diperlukan mekanisme yang dapat meningkatkan keyakinan pemangku kepentingan terhadap keandalan informasi tersebut. Dalam konteks ini, sustainability assurance memiliki peran penting dalam memperkuat kredibilitas informasi keberlanjutan yang disampaikan perusahaan.
Di sinilah sustainability assurance memiliki peran penting. ISSA 5000, General Requirements for Sustainability Assurance Engagements, menyediakan standar global untuk pelaksanaan penugasan assurance atas informasi keberlanjutan. Standar ini mendukung pelaksanaan assurance yang konsisten dan berkualitas terhadap berbagai jenis informasi keberlanjutan.
Mengurangi Risiko Greenwashing
Hubungan antara SPK/PSPK dan ISSA 5000 menjadi semakin relevan ketika perusahaan menghadapi tuntutan untuk membuktikan kredibilitas klaim keberlanjutannya. SPK/PSPK memberikan kerangka mengenai informasi keberlanjutan yang perlu diungkapkan, sedangkan ISSA 5000 menyediakan kerangka untuk memberikan assurance terhadap informasi tersebut.
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. SPK membantu meningkatkan kualitas pengungkapan, sementara ISSA 5000 membantu meningkatkan kepercayaan terhadap informasi yang diungkapkan. Kombinasi keduanya dapat mempersempit ruang bagi perusahaan untuk menyampaikan klaim keberlanjutan tanpa dukungan data dan bukti yang memadai.
Hal tersebut menjadi penting dalam mengurangi risiko greenwashing. Ketika perusahaan harus menyampaikan informasi berdasarkan standar yang jelas dan informasi tersebut kemudian menjadi objek assurance independen, klaim keberlanjutan menghadapi tingkat pengujian yang lebih tinggi. Proses assurance dapat membantu mengidentifikasi risiko salah saji, ketidakkonsistenan data, kelemahan metodologi, maupun klaim yang tidak didukung bukti yang memadai.
Perkembangan ini juga memperkuat peran profesi akuntan. Kompetensi dalam pengumpulan dan evaluasi bukti, skeptisisme profesional, manajemen mutu, serta kemampuan menghubungkan informasi keuangan dan nonkeuangan menjadi semakin relevan dalam sustainability assurance. Pada saat yang sama, kompleksitas isu keberlanjutan membutuhkan kolaborasi dengan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Karena itu, tantangannya bukan mempertentangkan akuntan dengan profesi lain, melainkan membangun kolaborasi lintas keahlian dengan standar etika, independensi, kompetensi, dan kualitas yang konsisten.
Membangun Kepercayaan
Pada akhirnya, kualitas pelaporan keberlanjutan tidak dapat hanya diukur dari semakin banyaknya perusahaan yang menerbitkan laporan atau semakin lengkapnya indikator yang dicantumkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah informasi tersebut dapat dipercaya dan benar-benar berguna dalam pengambilan keputusan.
SPK/PSPK membantu membangun fondasi pengungkapan yang lebih terstruktur, sementara ISSA 5000 memperkuat mekanisme assurance terhadap informasi keberlanjutan. Keduanya menjadi bagian penting dalam meningkatkan transparansi sekaligus mengurangi risiko greenwashing.
Bagi perusahaan, perkembangan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perlu bergerak dari sekadar pemenuhan checklist menuju penguatan sistem data, tata kelola, pengendalian internal, dan kualitas informasi. Sementara bagi investor dan pemangku kepentingan lainnya, informasi keberlanjutan yang kredibel memberikan dasar yang lebih kuat dalam menilai risiko, peluang, dan prospek perusahaan.
Dengan demikian, sustainability assurance bukan sekadar tahapan pemeriksaan di akhir proses pelaporan. SPK/PSPK dan ISSA 5000 menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan yang membantu memastikan bahwa informasi keberlanjutan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap risiko greenwashing.







