Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Selasa, 1 September 2026
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • ID
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • ID
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Menkeu Beri Insentif Pajak Untuk Percepat Reformasi BUMN

Lambang Wiji ImantorobyLambang Wiji Imantoro
8 Mei 2026
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
133 2
A A
0
Ilustrasi Logo BUMN

Sumber: CNA.id

154
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Langkah pemerintah memberikan pembebasan pajak atas aksi korporasi dalam rangka penataan ulang badan usaha milik negara menunjukkan bahwa agenda reformasi BUMN kini ditempatkan sebagai prioritas strategis negara. Kebijakan yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tersebut bukan sekadar insentif fiskal jangka pendek, melainkan instrumen untuk mempercepat restrukturisasi korporasi negara agar lebih ramping, efisien, dan fokus pada bisnis inti.

Di tengah target ambisius pemerintah untuk memangkas jumlah BUMN dari lebih dari seribu entitas menjadi sekitar 200 sampai 300 perusahaan, relaksasi perpajakan diposisikan sebagai katalis agar proses konsolidasi tidak terbebani biaya transaksi yang besar.

Secara substansi, kebijakan ini lahir dari kesadaran bahwa proses merger, akuisisi, konsolidasi, maupun likuidasi perusahaan negara pada dasarnya bukan aktivitas komersial biasa yang bertujuan mencari keuntungan jangka pendek. Penataan ulang tersebut merupakan bagian dari reformasi struktural untuk memperbaiki tata kelola dan kesehatan keuangan BUMN.

Dalam praktiknya, aksi korporasi semacam ini sering kali memunculkan kewajiban pajak yang cukup besar, terutama ketika terjadi pengalihan aset, penjualan saham, maupun restrukturisasi kepemilikan. Apabila seluruh transaksi tersebut tetap dikenakan pajak secara penuh, biaya restrukturisasi menjadi tinggi dan berpotensi menghambat agenda efisiensi yang justru ingin dicapai pemerintah.

Karena itu, pemerintah memandang pembebasan pajak sebagai bentuk dukungan fiskal agar proses streamlining dapat berjalan lebih cepat dan lebih murah. Kebijakan ini juga mencerminkan pendekatan pragmatis negara dalam mengelola transformasi korporasi skala besar.

Negara tampaknya menyadari bahwa mempertahankan terlalu banyak entitas BUMN justru menciptakan fragmentasi usaha, duplikasi fungsi, dan pemborosan sumber daya. Dalam banyak kasus, sejumlah anak usaha BUMN bahkan bergerak di sektor yang sama sehingga menimbulkan inefisiensi internal dan kompetisi yang tidak produktif antar perusahaan negara sendiri.

Agenda perampingan BUMN sebenarnya bukan isu baru. Selama bertahun tahun, banyak pengamat menilai struktur BUMN Indonesia terlalu gemuk dan kompleks. Banyak perusahaan dibentuk bukan semata karena kebutuhan bisnis, tetapi akibat ekspansi organisasi, diversifikasi yang berlebihan, maupun kebijakan sektoral pada periode tertentu.

Akibatnya, terdapat perusahaan yang tidak lagi relevan secara ekonomi, memiliki kinerja lemah, atau sekadar menjadi lapisan birokrasi tambahan di bawah holding besar. Dalam konteks inilah, langkah pemerintah melakukan likuidasi terhadap ratusan entitas dalam satu tahun terakhir menunjukkan adanya perubahan pendekatan yang lebih agresif dibanding periode sebelumnya.

Di sisi lain, kebijakan pembebasan pajak ini juga memperlihatkan semakin kuatnya peran BP BUMN dan Danantara dalam mengonsolidasikan pengelolaan aset negara. Pemerintah tampaknya ingin membangun struktur BUMN yang lebih terkendali, terintegrasi, dan memiliki skala ekonomi yang lebih besar. Dengan jumlah perusahaan yang lebih sedikit, pengawasan terhadap tata kelola diharapkan menjadi lebih efektif, sementara kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis dan menarik investasi dapat meningkat.

Namun demikian, keberhasilan streamlining BUMN tidak semata ditentukan oleh pengurangan jumlah perusahaan. Tantangan utama justru terletak pada kualitas integrasi pasca merger maupun restrukturisasi. Banyak pengalaman menunjukkan bahwa penggabungan perusahaan sering kali gagal menghasilkan efisiensi apabila budaya kerja, sistem operasional, dan model bisnis antar entitas tidak benar benar diselaraskan. Risiko lain yang juga perlu diantisipasi adalah munculnya konsentrasi kekuatan ekonomi yang terlalu besar pada kelompok BUMN tertentu sehingga dapat mengurangi kompetisi di pasar.

Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa kebijakan pembebasan pajak ini tidak dimaknai sebagai bentuk privilese permanen bagi perusahaan negara. Relaksasi tersebut harus dipahami sebagai fasilitas transisi yang bersifat terbatas dan memiliki tujuan spesifik, yakni mempercepat restrukturisasi. Pernyataan pemerintah bahwa pembebasan pajak hanya berlaku hingga 2029 sekaligus menjadi sinyal bahwa setelah masa transformasi selesai, BUMN tetap harus tunduk pada rezim perpajakan normal sebagaimana entitas usaha lainnya.

Dari perspektif fiskal, kebijakan ini memang berpotensi mengurangi penerimaan negara dalam jangka pendek. Akan tetapi, pemerintah tampaknya menghitung bahwa manfaat jangka panjang berupa BUMN yang lebih sehat, efisien, dan profitable akan jauh lebih besar dibanding potensi kehilangan pajak sementara. Jika restrukturisasi berhasil menciptakan perusahaan negara yang memiliki profitabilitas kuat dan tata kelola yang baik, maka kontribusi dividen maupun penerimaan pajak di masa depan justru dapat meningkat.

Pada akhirnya, langkah pemerintah membebaskan pajak atas aksi korporasi BUMN menunjukkan bahwa reformasi sektor perusahaan negara kini bergerak memasuki fase yang lebih fundamental. Fokusnya tidak lagi sekadar memperbesar aset atau memperluas jumlah entitas, melainkan membangun struktur korporasi negara yang lebih sederhana, sehat, dan kompetitif. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa proses konsolidasi tersebut benar benar menghasilkan peningkatan kinerja dan bukan hanya perubahan administratif di atas kertas.

author avatar
Lambang Wiji Imantoro
See Full Bio
Share62Tweet39Send
Previous Post

Nilai SPT Kurang Bayar Melonjak, Efek Positif Coretax?

Next Post

Belajar PPN: Rician Objek PPN

Lambang Wiji Imantoro

Lambang Wiji Imantoro

Related Posts

ESG
Analisis

Ketika Tax Avoidance Menguji Kredibilitas ESG

1 September 2026
ilustrasi pernikahan
Analisis

Apakah Hadiah Pernikahan Kena Pajak?

1 September 2026
Person typing on a keyboard with translucent holographic documents and checkmark icons floating above the desk.
Artikel

SPK dan ISSA 5000 Memperkuat Kredibilitas Informasi Keberlanjutan

1 September 2026
Kuasa
Analisis

Karyawan Bukan Lagi Kuasa Pajak? Memahami PMK 44/2026

1 September 2026
Ilustrasi Menabung
Analisis

Menabung di Bank Apakah Kena Pajak?

31 Agustus 2026
Sustainability Report
Artikel

Perkembangan Regulasi Sustainability Reporting di Indonesia

31 Agustus 2026
Next Post
Ilustrasi mengenai Objek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Belajar PPN: Rician Objek PPN

Ilustrasi gambar kendaraan beserta Pajak Kendaraan Bermotor

Bagiamana Jika Pajak Kendaraan Bermotor Dihapus?

Ilustrasi Perkembangan Ekonomi

Publik Skeptis Terhadap Masa Depan Ekonomi RI

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1569 shares
    Share 628 Tweet 392
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1143 shares
    Share 457 Tweet 286
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1021 shares
    Share 408 Tweet 255
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    923 shares
    Share 369 Tweet 231
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    900 shares
    Share 360 Tweet 225
Copyright © 2026 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Jasa Sustainability Report
    • Jasa Assurance Sustainability Report
    • Jasa Kajian Kebijakan Fiskal
    • Jasa Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Jasa Penyusunan Naskah Akademik
    • Jasa Analisis Ekonomi Makro
    • Jasa Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.