Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Senin, 31 Agustus 2026
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • ID
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • ID
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Tantangan dan Peluang ESG di Era Transparansi

Dwi PurwantobyDwi Purwanto
26 September 2025
in Artikel, ESG
Reading Time: 3 mins read
127 9
A A
0
#image_title

#image_title

156
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam satu dekade terakhir, semakin banyak perusahaan yang mengadopsi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari strategi bisnis mereka. Namun, meskipun tren ini berkembang, implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan utama adalah inkonsistensi dalam praktik pengungkapan ESG.

Banyak perusahaan masih memperlakukan ESG sebatas formalitas atau tren yang harus diikuti. Laporan yang dihasilkan sering kali minim substansi dan tidak sepenuhnya mencerminkan praktik nyata di lapangan. Hal ini membuat investor dan pemangku kepentingan kesulitan menilai sejauh mana komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan

Selain itu, masih terdapat perbedaan kualitas pelaporan antar perusahaan. Perusahaan besar dengan sumber daya yang memadai cenderung lebih lengkap dalam menyusun laporan keberlanjutannya, sementara perusahaan kecil sering kali terbatas pada aspek-aspek tertentu. Ketidakseragaman ini menimbulkan kesenjangan informasi yang dapat mengurangi kepercayaan publik.

Faktor lain yang menjadi hambatan adalah perbedaan konteks regulasi dan kelembagaan antar negara. Omenihu, Abdrakhmanova, dan Koufopoulos (2025) menegaskan bahwa di negara maju, pengungkapan ESG lebih mapan karena didukung oleh regulasi yang kuat dan tekanan pasar yang tinggi. Sebaliknya, di negara berkembang, kelemahan institusi dan budaya bisnis sering kali menjadi penghalang dalam mendorong praktik ESG yang konsisten.

Meskipun banyak tantangan, peluang besar juga hadir seiring dengan meningkatnya kesadaran global terhadap isu keberlanjutan. Regulasi internasional semakin ketat dan menuntut perusahaan untuk lebih transparan dalam mengungkapkan aktivitas ESG mereka. Hal ini terlihat dari berbagai standar pelaporan global, seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards Board (SASB), yang mendorong keterbukaan informasi perusahaan di berbagai sektor.

Kesadaran publik yang semakin tinggi juga menjadi faktor pendorong. Konsumen kini lebih selektif dalam memilih produk dan layanan, cenderung mendukung perusahaan yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Demikian pula, investor global semakin mempertimbangkan kinerja ESG dalam menentukan keputusan investasi. Perusahaan yang mampu menunjukkan komitmen nyata terhadap ESG lebih mudah menarik modal dan mitra bisnis

Selain menjaga reputasi, penerapan ESG yang baik dapat menciptakan keunggulan kompetitif. Perusahaan yang berkomitmen pada keberlanjutan cenderung lebih inovatif, misalnya dengan mengembangkan produk ramah lingkungan, menerapkan efisiensi energi, atau membangun kemitraan sosial yang berdampak positif. Langkah-langkah tersebut bukan hanya memperkuat posisi perusahaan di pasar, tetapi juga membuka peluang bisnis baru.

Keberhasilan implementasi ESG sangat dipengaruhi oleh tata kelola perusahaan. Dewan direksi yang independen, beragam, dan aktif melakukan pengawasan terbukti meningkatkan kualitas pengungkapan ESG. Penelitian Omenihu dkk. (2025) menunjukkan bahwa keberagaman gender di dewan direksi memberikan dampak positif pada transparansi. Kehadiran minimal tiga perempuan di dewan direksi, misalnya, dapat meningkatkan kualitas pelaporan ESG secara signifikan.

Konsep massa kritis menjelaskan bahwa keberadaan perempuan dalam jumlah yang cukup memungkinkan mereka berkontribusi nyata dalam pengambilan keputusan strategis. Sebaliknya, jika jumlah perempuan hanya satu atau dua, keberadaannya cenderung simbolis dan tidak berpengaruh besar terhadap arah kebijakan

Dengan tata kelola yang baik dan representasi gender yang seimbang, perusahaan dapat lebih efektif dalam menanggapi tuntutan regulasi maupun ekspektasi publik. Hal ini pada akhirnya menjadikan ESG bukan hanya instrumen pelaporan, tetapi juga motor penggerak inovasi dan sumber keunggulan kompetitif jangka panjang.

Untuk memaksimalkan peluang sekaligus menghadapi tantangan ESG, perusahaan perlu menempatkan keberlanjutan sebagai bagian inti dari strategi bisnis, bukan sekadar tambahan. Komitmen ini harus tercermin dalam setiap aspek organisasi, mulai dari kebijakan direksi hingga implementasi di lapangan.

Regulator dan pembuat kebijakan juga berperan penting. Regulasi yang konsisten dan insentif bagi perusahaan yang menerapkan ESG secara substansial akan mendorong terciptanya tata kelola bisnis yang inklusif dan berkelanjutan. Beberapa negara di Eropa yang telah menetapkan aturan keterwakilan perempuan di dewan direksi menunjukkan bukti nyata bahwa kebijakan publik mampu mempercepat transformasi menuju tata kelola yang lebih baik.

Tantangan dan peluang dalam penerapan ESG berjalan beriringan di era transparansi. Perusahaan yang gagal menjawab tuntutan keberlanjutan berisiko kehilangan kepercayaan pasar. Namun, bagi perusahaan yang mampu beradaptasi, ESG dapat menjadi landasan bagi reputasi, inovasi, dan daya saing global.

Seperti ditegaskan Omenihu dkk. (2025), tata kelola inklusif dan keberagaman gender dalam dewan direksi berperan penting dalam meningkatkan kualitas pengungkapan ESG. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan regulasi yang tepat, ESG bukan hanya instrumen pelaporan, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan bisnis yang bertanggung jawab, tangguh, dan berdaya saing tinggi.

author avatar
Dwi Purwanto
See Full Bio
Share62Tweet39Send
Previous Post

Mengapa Keberagaman Gender di Dewan Direksi Penting untuk ESG?

Next Post

ESG sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang

Dwi Purwanto

Dwi Purwanto

Related Posts

Sampah
Artikel

Lebih dari Sekadar Laporan, Sustainability Report sebagai Senjata Bisnis Melawan Krisis Sampah dan Greenwashing

28 Agustus 2026
Ilustrasi jual beli motor bekas apakah dikenakan pajak
Analisis

Apakah Jual Motor Bekas Kena Pajak?

28 Agustus 2026
Ilustrasi mengisi SPT
Analisis

Apakah Kerja Sampingan Harus Dilaporkan di SPT?

28 Agustus 2026
PPh 23
Analisis

Memahami Non-Objek Pemotongan PPh Pasal 23

28 Agustus 2026
Ilustrasi membayar pajak
Analisis

Penghasilan dari Luar Negeri Apakah Dikenakan Pajak?

27 Agustus 2026
Pengawasan
Analisis

Pengawasan Wajib Pajak Belum Terdaftar dalam SE-8/PJ/2026

27 Agustus 2026
Next Post
#image_title

ESG sebagai Strategi Bisnis Jangka Panjang

ESG dan SDGs sebagai Instrumen Kebijakan Ekonomi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Menjembatani Kesenjangan Pajak, Dari Pemungutan Otomatis ke Digitalisasi Pasar

Please login to join discussion

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1568 shares
    Share 627 Tweet 392
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1142 shares
    Share 457 Tweet 286
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1021 shares
    Share 408 Tweet 255
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    921 shares
    Share 368 Tweet 230
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    899 shares
    Share 360 Tweet 225
Copyright © 2026 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Jasa Sustainability Report
    • Jasa Assurance Sustainability Report
    • Jasa Kajian Kebijakan Fiskal
    • Jasa Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Jasa Penyusunan Naskah Akademik
    • Jasa Analisis Ekonomi Makro
    • Jasa Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.