Pratama-Kreston Tax Research Center
No Result
View All Result
Kamis, 16 Juli 2026
  • Login
  • Register
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Center
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Sustainability Report
    • Assurance Sustainability Report
    • Kajian Kebijakan Fiskal
    • Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Penyusunan Naskah Akademik
    • Analisis Ekonomi Makro
    • Survei
      • Survei Objek Pajak Daerah
      • Survey Efektivitas Penyuluhan Pajak Daerah
      • Survei Kepuasan Masyarakat
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami
  • INDONESIA
Pratama-Kreston Tax Research Institute
No Result
View All Result

Diskriminasi Pajak Kian Nyata

Pratama Indomitra KonsultanbyPratama Indomitra Konsultan
28 September 2021
in Liputan Media
Reading Time: 2 mins read
131 5
A A
0
Diskriminasi Pajak Kian Nyata
156
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bisnis Indonesia | 9 Juni 2021

Praktik diskriminasi pajak kian nyata. Di satu sisi, pemerintah memberikan berbagai kemudahan dan relaksasi tarif untuk masyarakat kelas atas. Di sisi lain, kelompok bawah makin terbebani dengan reformulasi struktur pajak.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Bisnis, reformulasi pajak melalui Rancangan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP) merupakan hasil negosiasi pemerintah dengan pelaku usaha saat menyusun program Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty pada 2016.

Kala itu, masyarakat kelas atas atau wajib pajak orang pribadi nonkaryawan mendukung dan akan mengikuti program Tax Amnesty dengan syarat pemerintah harus mengubah struktur penerimaan pajak, yang selama ini mengandalkan pajak penghasilan (PPh) badan menjadi bertumpu pada pajak pertambahan nilai (PPN).

Fakta itu dipertegas dalam RUU KUP, di mana struktur penerimaan akan mengandalkan pajak konsumsi, bukan pajak korporasi.

“RUU KUP sejalan dengan tren kebijakan perpajakan global, di antaranya kecenderungan menghentikan penurunan tarif PPh badan dan menggunakan instrumen PPN dalam optimalisasi penerimaan,” tulis pemerintah dalam RUU KUP yang dikutip Bisnis, Selasa (8/6).

Hal itu juga didukung argumentasi pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2022. Dalam dokumen itu, pemerintah mengatakan, dengan perbaikan sistem, PPN akan menjadi sumber utama penerimaan pajak.

Hal ini sebagai komplementer, melengkapi PPh badan yang sedang diarahkan sebagai instrumen kebijakan sisi penawaran dengan langkah penurunan tarif dan pemberian berbagai insentif, seperti tax holiday dan tax allowance.

Sesungguhnya, upaya perubahan struktur itu telah dilakukan sejak tahun lalu melalui penerbitan UU No. 2/2020. Dalam regulasi tersebut, tarif pajak untuk korporasi dipangkas menjadi 22% pada tahun lalu dan tahun ini, kemudian kembali diturunkan menjadi 20% pada 2022.

Relaksasi pajak korporasi ini berdampak sangat besar bagi penerimaan negara. Pasalnya, PPh badan merupakan kontributor terbesar dalam penerimaan pajak.

Kemudian, pemerintah mengubah skema PPN. Celakanya, reformulasi ini menyasar seluruh kebutuhan masyarakat. Artinya, seluruh produk konsumsi, termasuk kebutuhan pokok, bakal menjadi barang kena pajak (BKP).

Direktur Eksekutif MUC Tax Research Institute Wahyu Nuryanto menilai kebijakan pemerintah diskriminatif. Di satu sisi, korporasi dimanja karena merasakan berbagai relaksasi tarif. Namun bagi masyarakat kelas bawah, perubahan tarif PPN menjadi beban. “Ini karena sumber penerimaan makin terbatas karena pandemi dan target penerimaan naik. Maka harus mencari sumber penerimaan baru,” kata Wahyu.

Pengajar Ilmu Administrasi Fiskal Universitas Indonesia (UI) Prianto Budi Saptono menambahkan PPN dan PPh memang sering kali menjadi instrumen utama sebagai basis pemajakan atau two leading tax bases di banyak negara.

Namun, dampak yang ditimbulkan dari kenaikan PPN lebih besar.

 

Artikel ini telah tayang di laman Bisnis Indonesia dengan link https://bisnisindonesia.id/article/diskriminasi-pajak-kian-nyata pada 09 Juni 2021.

author avatar
Pratama Indomitra Konsultan
See Full Bio
Tags: DJPKemenkeuMenkeuPrianto Budi Saptono
Share62Tweet39Send
Previous Post

Ini Keuntungan Alumni Peserta Tax Amnesty dari Program Pengampunan Pajak

Next Post

Hal yang Perlu Dipersiapkan dalam Menyambut Tax Amnesty Jilid II

Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Indomitra Konsultan

Related Posts

Pencatatan Keuangan sebagai Kunci UMKM Naik Kelas
Liputan Media

Pencatatan Keuangan sebagai Kunci UMKM Naik Kelas

20 Oktober 2025
Disrupsi Pemberantasan Korupsi dan Urgensi Perampasan Aset
Liputan Media

Disrupsi Pemberantasan Korupsi dan Urgensi Perampasan Aset

11 September 2025
Integritas yang Rapuh di Birokrasi
Liputan Media

Integritas yang Rapuh di Birokrasi

27 Agustus 2025
Danantara
Liputan Media

Remunerasi Berbasis Kinerja, Kunci Profesionalisme BUMN

8 Agustus 2025
Good Corporate Governance
Liputan Media

Rangkap Jabatan dan Krisis Etika di BUMN

5 Agustus 2025
Padel
Liputan Media

Menimbang Pajak Olahraga Bagi Gaya Hidup Sehat Warga

9 Juli 2025
Next Post
Hal yang Perlu Dipersiapkan dalam Menyambut Tax Amnesty Jilid II

Hal yang Perlu Dipersiapkan dalam Menyambut Tax Amnesty Jilid II

Menkeu Akan Kenakan AMT untuk WP yang Merugi, Begini Kata Pengamat

Menkeu Akan Kenakan AMT untuk WP yang Merugi, Begini Kata Pengamat

BKP Temukan Kejanggalan Insentif Pajak dalam PEN 2020, Ini Kata Pengamat Pajak

BKP Temukan Kejanggalan Insentif Pajak dalam PEN 2020, Ini Kata Pengamat Pajak

Please login to join discussion

Instansi Anda memerlukan jasa berupa kajian kebijakan fiskal, pajak dan retribusi daerah, penyusunan naskah akademik, ataupun jasa survei?

Atau, Perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun Laporan Tahunan (Annual Report) atau Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report)?

Konsultasikan kepada ahlinya!

MULAI KONSULTASI

Popular News

  • Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    Jika Suami Tidak Berpenghasilan, Berapa Besarnya PTKP Istri?

    1565 shares
    Share 626 Tweet 391
  • Batas Waktu Pengkreditan Bukti Potong PPh Pasal 23

    1135 shares
    Share 454 Tweet 284
  • Apakah Jasa Angkutan Umum Berplat Kuning Dikenai PPN?

    1017 shares
    Share 407 Tweet 254
  • Iuran BPJS dikenakan PPh Pasal 21?

    914 shares
    Share 366 Tweet 229
  • Apakah Pembelian Domain Website dikenakan PPh Pasal 23?

    894 shares
    Share 358 Tweet 224
Copyright © 2025 PT Pratama Indomitra Konsultan

Pratama Institute

Logo Pratama Indomitra
  • Antam Office Tower B Lt 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan Indonesia 12530
  • Phone : (021) 2963 4945
  • [email protected]
  • pratamaindomitra.co.id

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Konsultasi
  • ESG
  • Insight
    • Buletin
    • In-depth
    • Working Paper
  • Analisis
    • Artikel
    • Opini
    • Infografik
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Liputan Media
  • Jasa Kami
    • Annual Report
    • Jasa Sustainability Report
    • Jasa Assurance Sustainability Report
    • Jasa Kajian Kebijakan Fiskal
    • Jasa Kajian Potensi Pajak dan Retribusi Daerah
    • Jasa Penyusunan Naskah Akademik
    • Jasa Analisis Ekonomi Makro
    • Jasa Survei
    • Konsultasi Pajak Komprehensif
  • Tentang Kami
    • Kontak Kami

© 2025 Pratama Institute - All Rights Reserved.