| Klik untuk Akses & Download |
Sumatera tengah berduka. Banjir bandang yang menerjang 51 desa bukan sekadar anomali cuaca, melainkan tragedi kemanusiaan yang merenggut hampir seribu nyawa dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp68,8 triliun. Di balik air yang meluap, terdapat luka menganga seluas 1,4 juta hektar hutan yang hilang—sebuah bukti nyata bahwa rusaknya bentang alam di hulu telah mengubah anugerah ekologis menjadi bencana sistemik bagi rakyat.
Bencana ini adalah buah dari paradoks kebijakan fiskal yang selama ini kita pelihara. Sementara sektor ekstraktif seperti tambang dan sawit terus dimanjakan dengan berbagai insentif pajak, biaya kerusakan lingkungan justru dibebankan kepada publik. Negara seolah terjebak dalam siklus yang keliru: memfasilitasi keuntungan privat dari eksploitasi alam, namun harus menguras anggaran publik untuk membiayai pemulihan bencana yang tak kunjung usai.
Mengizinkan deforestasi atas nama ekonomi berarti membiarkan fondasi kesejahteraan kita menuju kehancuran. Kita perlu menyadari bahwa tidak ada pertumbuhan ekonomi yang sehat di atas tanah yang kehilangan daya dukungnya. Melalui edisi ini, kami mengajak Anda untuk membedah lebih dalam mengapa model ekonomi ekstraktif yang kita agungkan justru menjadi motor penghancur masa depan kita sendiri.
Simak hasil kajian mendalam kami dalam buletin Pratama Insight Edisi 10/2025 ini. Selamat membaca!
Disusun oleh:
Pratama Institute for Fiscal Policy & Governance Studies
Penanggung Jawab:
Ismail Khozen
Tim Redaksi:
Gustofan Mahmud
Lambang Wiji Imantoro
Muhamad Akbar Aditama
Umar Hanif Al Faruqy
Desain, Ilustrasi, & Tata Letak:
Umar Hanif Al Faruqy
Diterbitkan oleh:
PT Pratama Indomitra Konsultan
Antam Office Park Tower B lantai 8 Jl. TB Simatupang No. 1 Jakarta Selatan 12530 Indonesia
Telp: 62-21-2963.4945 (hunting), Faks: 62-21-2963.4946
E-mail: [email protected]
Website: www.pratamaindomitra.co.id








